Naim Qassem: Wajah Baru Kepemimpinan Hizbullah

INTERNASIONAL - Kelompok milisi Lebanon, Hizbullah, mengumumkan penunjukan Sheik Naim Qassem sebagai pemimpin baru mereka pada hari Selasa, 29 Oktober, menggantikan posisi Hasan Nasrallah yang sebelumnya menjabat. Peralihan kepemimpinan ini dianggap sebagai langkah strategis untuk memperkuat posisi Hizbullah di tengah ketegangan yang terus berlangsung di wilayah tersebut.

Setelah resmi dilantik, Qassem diharapkan dapat memimpin Hizbullah dalam upaya perlawanan terhadap Israel dengan lebih efektif. Di usianya yang kini 71 tahun, Naim Qassem sebelumnya menjabat sebagai wakil pemimpin dan telah mendampingi Nasrallah dalam berbagai misi penting.

Latar belakang Qassem mencakup pengalaman sebagai salah satu tokoh senior yang terlibat dalam pendirian Hizbullah pada tahun 1980-an. Ia lahir di Beirut pada tahun 1953 dari keluarga yang berasal dari desa Kfar Fila, yang terletak di perbatasan Israel. Sejak masa mudanya, Qassem dikenal sebagai sosok yang aktif dalam kegiatan politik dan militer, menjadikannya salah satu figur kunci dalam struktur kepemimpinan Hizbullah.

Sebagai pejabat paling senior Hizbullah yang masih aktif tampil di depan publik, Qassem mengambil alih peran penting setelah Nasrallah menghindar dari sorotan publik pasca-konflik dengan Israel pada tahun 2006. Sejak kematian Nasrallah dalam serangan udara Israel pada 27 September, Qassem telah memberikan tiga pidato di televisi, berbicara dengan gaya bahasa Arab formal, berbeda dengan gaya lebih santai yang menjadi ciri khas Nasrallah.

Qassem juga dikenal memiliki pemahaman mendalam mengenai strategi militer dan diplomasi, yang diyakini akan membantunya dalam mengarahkan Hizbullah menghadapi tantangan yang kompleks di masa mendatang. Dengan perubahan kepemimpinan ini, Hizbullah bertekad untuk menguatkan posisinya dalam menghadapi tantangan yang dihadapi, terutama dalam konteks konflik yang terus berlanjut dengan Israel.

Para pengamat mengamati dengan seksama langkah-langkah yang akan diambil Qassem ke depan, baik dalam hal kebijakan internal maupun strategi luar negeri Hizbullah, yang bisa mempengaruhi stabilitas kawasan yang sudah rentan.

Posting Komentar