Gencatan Senjata India-Pakistan: Langkah Awal Menuju Stabilitas atau Sekadar Sementara?

New Delhi - Setelah empat hari ketegangan yang memuncak dan kekhawatiran akan terjadinya konflik berskala besar, Amerika Serikat mengambil inisiatif untuk memediasi gencatan senjata antara India dan Pakistan, khususnya terkait wilayah sengketa Kashmir. Meskipun langkah ini diharapkan dapat meredakan ketegangan, banyak pakar kebijakan luar negeri dan diplomat dari kedua negara skeptis bahwa gencatan senjata ini akan membawa perdamaian yang berkelanjutan.

Mediasi yang dilakukan oleh AS dianggap memberikan jalan keluar yang bermanfaat bagi kedua belah pihak. Menurut Meera Shankar, mantan duta besar India untuk AS, "AS telah memainkan peran krusial dalam mendorong Pakistan untuk menerima gencatan senjata." Mantan komisaris tinggi India untuk Pakistan, Ajay Bisaria, menambahkan bahwa AS memanfaatkan berbagai syarat dari IMF untuk mempercepat akhir permusuhan yang berkepanjangan.

India, di sisi lain, telah menetapkan norma baru dengan pendekatan nol toleransi terhadap terorisme, yang diakui oleh AS. Hal ini menunjukkan bahwa kedua negara, meskipun saling berhadapan, memiliki kepentingan untuk mencari solusi damai.

Kebutuhan Gencatan Senjata

Para analis di Pakistan juga sepakat bahwa gencatan senjata sangat dibutuhkan oleh kedua negara. Namun, mereka menekankan bahwa tidak ada pihak yang ingin terlihat lemah dengan menjadi yang pertama meminta gencatan senjata. Husain Haqqani, mantan duta besar Pakistan, menyatakan bahwa AS memberikan "alasan" bagi kedua negara untuk mengambil langkah ini tanpa kehilangan muka.

Kedua negara tampaknya menggunakan eskalasi militer ini sebagai cara untuk menguji ketahanan satu sama lain. Haqqani mencatat bahwa keduanya menyadari bahwa perang tidak akan menguntungkan, dan keduanya tidak ingin mengalami kehancuran besar.

Selain AS, Arab Saudi dan Iran juga berperan sebagai mediator kunci dalam konflik ini. Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel Aljubeir, dan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memanfaatkan hubungan diplomatik mereka untuk membantu meredakan ketegangan. Keterlibatan negara-negara ini menunjukkan bahwa penyelesaian konflik di Kashmir memerlukan pendekatan multilateral.

Deepa Gopalan Wadhwa, mantan diplomat India, mengungkapkan kekhawatirannya bahwa militer Pakistan berfungsi sebagai "aktor liar" dalam sistem pemerintahan, menciptakan ketidakpastian dalam mengelola ketegangan. Interaksi antara Direktur Jenderal Operasi Militer (DGMO) dari kedua negara menjadi penting untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

Masa Depan Perdamaian

Banyak analis percaya bahwa meskipun gencatan senjata ini mungkin bertahan dalam jangka pendek, tantangan untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan tetap ada. Brigadir S K Chatterji, seorang pakar strategi pertahanan India, memperingatkan bahwa kesepakatan ini tidak menjamin stabilitas di masa depan. Ia menekankan bahwa mediasi oleh pihak ketiga, seperti yang dilakukan AS, kemungkinan tidak akan terulang.

Meskipun ada tekanan internasional untuk menjaga gencatan senjata, isu-isu seperti terorisme dan sengketa sumber daya air tetap menjadi tantangan jangka panjang. Mantan komisaris tinggi India untuk Pakistan, Bisaria, menyoroti bahwa penangguhan Perjanjian Air Indus dan masalah ekonomi Pakistan akan terus memperumit hubungan antara kedua negara.

Sementara gencatan senjata ini mungkin memberikan harapan untuk meredakan ketegangan, banyak yang percaya bahwa tantangan yang lebih besar masih menanti. Elizabeth Threlkeld, direktur departemen Asia Selatan di Stimson Center, menekankan pentingnya komitmen dari kedua pihak untuk mencegah pelanggaran di masa depan.

Dengan kedua militer tetap dalam siaga tinggi, risiko konflik lanjutan tetap ada, terutama di wilayah-wilayah sengketa. Gencatan senjata ini mungkin hanya langkah awal, dan kedua negara harus bekerja sama untuk memastikan bahwa sejarah konflik tidak terulang kembali.

Posting Komentar