
BOLA - Marcus Rashford, yang dikenal sebagai salah satu talenta terbaik hasil didikan akademi Manchester United, kini menghadapi tantangan besar dalam kariernya. Di usia 27 tahun, ketika seharusnya mencapai puncak performa, Rashford justru menghadapi masa sulit yang membuatnya terpinggirkan dari skuad utama MU.
Karier Rashford di MU dimulai dengan cemerlang. Debut pada tahun 2016 di bawah asuhan Louis van Gaal, Rashford dengan cepat menjadi andalan dan berkembang pesat, terutama di era Jose Mourinho. Namun, di balik performa gemilangnya, perlahan muncul tanda-tanda masalah non-teknis yang mengganggu konsistensinya.
Sejak 2018, Rashford kerap terlibat konflik dengan beberapa pelatih MU. Mulai dari Jose Mourinho, Ole Gunnar Solskjaer, Ralf Rangnick, hingga Erik ten Hag, semuanya pernah bermasalah dengan sikap Rashford di luar lapangan. Ruben Amorim, yang kini melatih MU sejak pertengahan musim 2024/2025, tampaknya menghadapi situasi serupa. Rashford mulai tersisih dari skuad sejak Desember 2024 akibat evaluasi menyeluruh Amorim terhadap perilaku dan profesionalisme pemain, bukan hanya performa di lapangan.
Salah satu faktor yang diduga menjadi penyebab utama adalah sikap manajemen MU yang terlalu memanjakan Rashford. Sebagai produk asli akademi yang juga pemain tim nasional Inggris, Rashford sering kali mendapat perlakuan istimewa. Siklus yang berulang terlihat jelas: bermain bagus, mendapat kontrak baru dengan kenaikan gaji signifikan, kemudian performa menurun diiringi konflik dengan pelatih, yang sering kali berujung pada pemecatan sang pelatih, sementara Rashford tetap bertahan.
Kini, Rashford menerima gaji mencapai 325.000 pounds per minggu atau sekitar 6,5 miliar rupiah, angka yang memberatkan klub terutama saat performanya menurun. Manajemen baru MU di bawah INEOS mulai bersikap lebih tegas terhadap situasi ini. Rashford dikabarkan akan dilepas, dengan Borussia Dortmund dan AC Milan disebut sebagai calon tujuan berikutnya. Namun, kedua klub tersebut enggan menanggung gaji Rashford sepenuhnya, sehingga MU mungkin harus turut menanggung sebagian beban finansial jika transfer ini terwujud.
Situasi Rashford menjadi pengingat bahwa manajemen klub harus seimbang dalam memberikan penghargaan kepada pemain, dengan tetap menjaga standar disiplin dan profesionalisme tinggi demi menjaga stabilitas tim.


Posting Komentar