“Tenaga medis di sini menghadapi tantangan luar biasa dan terus berjuang untuk memberikan layanan kepada masyarakat Gaza, meskipun mereka kekurangan persediaan obat-obatan,” ungkap Andre. Meskipun ada beberapa truk bantuan yang telah berhasil memasuki Gaza, dokter asing kini dilarang untuk masuk, memperburuk situasi yang sudah genting.
“Nyaris tidak ada rumah sakit yang dapat beroperasi di wilayah ini,” tambahnya. Andre juga menggambarkan evakuasi pasien dari Gaza utara sebagai sebuah tindakan yang tidak manusiawi dan menyedihkan.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa tenaga medis tidak hanya menangani cedera akibat serangan, tetapi juga berusaha mengatasi berbagai penyakit dan masalah kesehatan lain yang semakin parah di tengah kondisi yang semakin memburuk. Andre menyatakan bahwa supremasi hukum telah runtuh, yang menyebabkan banyak orang meninggal akibat kelaparan, dehidrasi, penyakit kronis, dan serangan militer.
Andre mencatat bahwa belakangan ini, hampir 25 tenaga medis asal Eropa dan lebih dari 100 tenaga medis dari Amerika Serikat telah bertugas di Gaza. Mereka mengungkapkan bahwa pengalaman mereka di Gaza sangat berbeda dari kondisi yang mereka hadapi setelah kembali ke negara asal mereka.
Banyak tenaga medis yang kembali membawa kesaksian dan bukti mengenai kondisi di Gaza ke Mahkamah Pidana Internasional, serta kepada pengacara dari Afrika Selatan yang telah mengajukan tuntutan terhadap Israel di Mahkamah Internasional atas tuduhan kejahatan genosida di Jalur Gaza.
“Apa yang kami saksikan di Gaza kami laporkan kepada Parlemen Eropa, serta parlemen dan senat Prancis,” tutup Andre, menggarisbawahi urgensi situasi kemanusiaan yang terus berlangsung.

Posting Komentar