Kerugian besar ini disebabkan oleh dua faktor utama. Pertama, pemulihan bisnis pasca-COVID-19 yang belum optimal. Meski pandemi telah mereda, dampaknya masih terasa dalam pengelolaan bisnis. Kedua, meningkatnya tekanan akibat situasi geopolitik. Krisis Timur Tengah baru-baru ini memicu gelombang boikot terhadap produk-produk tertentu, termasuk KFC, yang memperburuk kondisi perusahaan.
Dalam laporan keuangan kuartal III tahun 2024, FAST melaporkan kerugian sebesar Rp 557,08 miliar. Angka ini melonjak drastis sebesar 266,59% dibandingkan periode yang sama pada 2023, di mana kerugian tercatat hanya Rp 152,41 miliar.
Sejarah dan Kepemilikan KFC di Indonesia
PT Fast Food Indonesia Tbk didirikan oleh Keluarga Galael pada 1978 dan mulai mengoperasikan gerai pertamanya di Jalan Melawai, Jakarta, pada Oktober 1979. Kesuksesan pembukaan gerai pertama memacu ekspansi cepat ke berbagai kota besar di Indonesia, seperti Bandung, Surabaya, Medan, hingga Makassar. Selama lebih dari 30 tahun, KFC telah menjadi salah satu pemain utama di industri restoran cepat saji Indonesia.
Dari sisi kepemilikan, Keluarga Galael memegang saham mayoritas sebesar 39,84%. Saham dominan lainnya dikuasai oleh PT Indoritel Makmur Internasional Tbk, yang berafiliasi dengan Anthoni Salim (Salim Grup), sebesar 35,84%. Sisa saham sekitar 7,9% dimiliki oleh masyarakat umum.
Manajemen perusahaan juga diisi oleh perwakilan dari kedua pemegang saham besar. Ricardo Galael menjabat sebagai Direktur Utama, sementara Anthoni Salim menempati posisi Komisaris Utama.
Meskipun menghadapi tantangan berat, PT Fast Food Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam mengelola merek besar seperti KFC. Dengan strategi baru dan penyesuaian operasional, perusahaan diharapkan dapat mengatasi masa sulit ini dan kembali menjadi salah satu pemain dominan di pasar restoran cepat saji Indonesia.
Semoga informasi ini memberikan gambaran yang jelas tentang situasi yang dihadapi KFC Indonesia.

Posting Komentar