INTERNASIONAL - Pemerintah Iran dengan tegas menolak tuduhan Amerika Serikat yang menyebut bahwa Teheran memiliki peran dalam rencana pembunuhan presiden terpilih Donald Trump. Kementerian Luar Negeri Iran menyebut tuduhan tersebut sebagai sesuatu yang "tidak memiliki dasar sama sekali."
Dalam pernyataannya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa Iran tidak pernah merencanakan serangan terhadap pejabat AS, baik yang sedang menjabat maupun mantan pejabat. “Iran dengan keras membantah tuduhan terkait rencana pembunuhan terhadap individu di Amerika Serikat,” ujar Baghaei dalam pernyataan yang dikutip oleh AFP.
Di sisi lain, Departemen Kehakiman AS mengumumkan bahwa seorang pria berkebangsaan Iran telah ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan plot pembunuhan terhadap Trump. Pria tersebut diduga memiliki hubungan dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), kelompok yang oleh pihak AS dianggap berisiko tinggi terkait keamanan nasional.
Pria yang disebut oleh pihak AS sebagai aset IRGC ini dilaporkan pernah migrasi ke AS sejak kecil dan sempat dideportasi pada 2008 setelah terjerat kasus perampokan. Selain itu, Departemen Kehakiman AS juga telah mendakwa dua individu lainnya terkait dugaan rencana serangan terhadap warga AS keturunan Iran di New York.
Donald Trump, kandidat dari Partai Republik, dikabarkan kembali memenangkan kursi kepresidenan AS setelah berhasil unggul atas Kamala Harris dari Partai Demokrat. Berdasarkan hasil quick count yang dilaporkan beberapa media, Trump memperoleh 295 suara elektoral, unggul jauh dari Harris yang meraih 226 suara. Popular vote juga menunjukkan dominasi Trump dengan 50,9 persen suara dibandingkan Harris yang memperoleh 47 persen.
Posting Komentar