Remedios menggambarkan dampak banjir dengan emosional. Jalanan tertutup lumpur, pepohonan tumbang, mobil-mobil terendam air, dan jaringan listrik terganggu. Halaman rumahnya sendiri hancur, dengan perabotan luar yang hanyut terbawa arus. "Kejadian ini benar-benar seperti bencana," ujar Remedios dengan perasaan tak percaya.
Wali Kota Utiel, Ricardo Gabaldon, turut merasakan ketakutan saat banjir datang tanpa peringatan. Ia merasa benar-benar terjebak, menggambarkan kondisinya "seperti tikus dalam jebakan." Dengan air setinggi tiga meter yang mengalir deras, kendaraan-kendaraan bahkan ikut terseret di jalanan. Gabaldon menyebutkan ini sebagai bencana alam terburuk yang pernah ia alami.
Di pinggiran Valencia, Christian Vienna, pemilik sebuah bar, juga mengisahkan kehancuran yang terjadi. Pada Rabu (30/10), lingkungan tempatnya tinggal berubah menjadi kota mati. Mobil-mobil hancur bertumbukan, lumpur setinggi 30 cm menyelimuti jalanan, dan kondisi sekitar benar-benar rusak parah. "Semuanya porak-poranda, benar-benar hancur dan hanya bisa dibuang," kata Vienna.
Banjir ini telah menelan korban jiwa, yang awalnya berjumlah 51 orang pada Selasa, namun kemudian meningkat menjadi 95 orang sehari setelahnya. Bencana ini mengejutkan banyak pihak karena Spanyol jarang dilanda banjir bandang sebesar ini. Kondisi ini dianggap sebagai dampak nyata dari perubahan iklim yang membuat cuaca ekstrem semakin sering terjadi. Menteri Lingkungan Hidup Spanyol, Teresa Ribera, menegaskan bahwa perubahan iklim memicu kejadian yang tak terduga dan makin intens.
Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, menyatakan tiga hari berkabung nasional untuk mengenang para korban banjir bandang yang tak terduga ini, sekaligus sebagai momen duka dan solidaritas bagi warga yang terdampak.

Posting Komentar