1. Risiko Virus Panleukopenia
Kucing yang tidak divaksin rentan terhadap virus panleukopenia, infeksi yang dapat menyerang sistem kekebalan tubuh dan pencernaan. Penyakit ini bisa menyebabkan dehidrasi, diare berdarah, dan bahkan kematian dalam waktu singkat, terutama pada anak kucing. Vaksinasi terhadap panleukopenia sebaiknya dilakukan sejak kucing berusia 8 minggu untuk memberikan perlindungan yang efektif.2. Penularan Rabies
Rabies adalah ancaman serius yang dapat menular dari hewan ke manusia. Kucing yang tidak divaksinasi berisiko tinggi tertular rabies dari gigitan hewan lain. Penyakit ini hampir selalu berakibat fatal setelah gejala muncul. Banyak negara mewajibkan vaksin rabies untuk hewan peliharaan guna melindungi kesehatan publik. Vaksinasi dapat mengurangi risiko penularan rabies secara signifikan.3. Penyakit Pernapasan Menular
Penyakit seperti felimis calicivirus dan rhinotracheitis sangat mudah menular antar kucing. Kucing yang tidak divaksin dapat mengalami gejala seperti pilek, demam, dan kesulitan bernapas. Vaksin untuk penyakit ini biasanya diberikan dalam paket vaksin dasar oleh dokter hewan. Tanpa vaksinasi, kucing dapat menjadi pembawa virus tanpa menunjukkan gejala, sehingga menyebarkannya ke kucing lain.4. Biaya Perawatan yang Tinggi
Kucing yang tidak divaksin cenderung lebih rentan jatuh sakit, dan biaya pengobatan untuk penyakit serius seringkali jauh lebih tinggi dibandingkan biaya vaksinasi. Beberapa penyakit memerlukan perawatan intensif dan tindakan medis khusus yang dapat membebani keuangan pemilik. Dengan melakukan vaksinasi secara berkala, pemilik kucing sebenarnya berinvestasi dalam kesehatan jangka panjang hewan peliharaannya.Vaksinasi bukan hanya tindakan preventif, tetapi juga merupakan bentuk kasih sayang dan tanggung jawab sebagai pemilik. Kucing yang divaksin memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik dan kualitas hidup yang lebih tinggi. Ingatlah, mencegah selalu lebih baik daripada mengobati!





Posting Komentar