Namun, kemenangan ini menjadi kontroversial, mengingat Trump tengah menghadapi sejumlah kasus pidana. Statusnya sebagai terdakwa menimbulkan banyak pertanyaan, terutama soal bagaimana dia masih bisa mencalonkan diri dan bahkan memenangi pilpres di tengah kondisi hukum yang dihadapinya.
Di Amerika Serikat, konstitusi memiliki syarat pencalonan presiden yang sederhana. Menurut Richard L. Hasen, profesor hukum dari Universitas California, AS tidak melarang seorang terdakwa untuk mencalonkan diri sebagai presiden. Bahkan, tidak ada batasan bagi seseorang yang sudah dihukum atau menjalani hukuman penjara untuk mencalonkan diri, selama mereka memenuhi tiga syarat dasar: berusia minimal 35 tahun, pernah tinggal di AS selama setidaknya 14 tahun, dan memiliki kewarganegaraan Amerika sejak lahir atau dari salah satu orang tua.
Trump, yang kini berusia 78 tahun dan lahir serta besar di AS, jelas memenuhi seluruh persyaratan ini. Ayahnya adalah warga negara AS sejak lahir, sehingga memastikan Trump sah menjadi kandidat presiden menurut konstitusi.
Kasus-kasus yang menjerat Trump meliputi tuduhan usaha mengubah hasil pemilu di Georgia pada Pemilu 2020, dugaan pembayaran uang tutup mulut kepada seorang bintang porno, serta penahanan dokumen rahasia pemerintah. Pada April lalu, jaksa penuntut mendakwa Trump atas konspirasi penipuan dan tindakan menutupi fakta. Trump, di berbagai kesempatan, selalu membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai upaya politik yang bertujuan mencegah langkahnya maju ke Pilpres.
Meskipun berstatus terdakwa, popularitas Trump justru semakin meningkat. Dia berhasil membangun citra sebagai sosok yang "diperangi" oleh kekuatan politik lawannya, dan hal ini meningkatkan simpati di kalangan pendukung. Insiden serangan yang menimpa dirinya saat berkampanye di Pennsylvania, di mana Trump tertembak di telinga kanan, semakin memperkuat dukungan. Gambar dirinya yang mengepalkan tangan tak lama setelah insiden tersebut beredar luas di media sosial, mengundang simpati sekaligus memperkuat semangat para pendukungnya.
Di balik layar, tim kampanye Trump bekerja dengan sangat efektif. Selain memperkokoh dukungan dari loyalis Partai Republik, mereka menargetkan kelompok-kelompok pemilih yang biasanya menjadi basis Demokrat, seperti serikat pekerja, komunitas Afrika-Amerika, dan komunitas Latin. Trump menawarkan insentif konkret, seperti penghapusan pajak upah lembur untuk pekerja dan insentif finansial bagi pekerja di sektor jasa di wilayah-wilayah strategis seperti Nevada. Strategi ini membuatnya semakin menarik bagi kelompok kelas pekerja dan lansia, yang merasa terpinggirkan oleh kebijakan pemerintah sebelumnya.
Selain itu, Trump aktif menjangkau pemilih muda melalui media sosial seperti TikTok dan berkolaborasi dengan influencer untuk menguatkan narasi kampanyenya. Pendekatan ini memungkinkan Trump mendapatkan perhatian dari kelompok usia muda hingga kalangan pekerja industri, menciptakan jangkauan pemilih yang luas.
Kemenangan Trump di tengah statusnya sebagai terdakwa menimbulkan berbagai pertanyaan, namun juga mencerminkan dinamika unik dalam sistem pemilihan di AS. Aturan yang longgar terkait pencalonan presiden serta strategi kampanye yang efektif menjadi kunci keberhasilannya. Trump mampu membalikkan tantangan hukum menjadi bagian dari narasi yang menarik simpati publik, dan strategi kampanyenya berhasil menjangkau beragam kelompok pemilih.


Posting Komentar