
WARTA.HARIAN - Dalam debat kedua Pilkada Jakarta yang berlangsung di Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta Utara, Minggu (27/10/2024) malam, Calon Gubernur Jakarta nomor urut 2, Dharma Pongrekun, mengusulkan pemanfaatan rumput laut sebagai sumber bioenergi. Dharma menyarankan agar masyarakat di Kepulauan Seribu diberdayakan untuk menanam rumput laut, dengan tujuan menghasilkan bioenergi. Menurutnya, pendapatan dari bioenergi ini dapat dimanfaatkan untuk proyek desalinasi air, guna memudahkan akses air minum di wilayah tersebut.
Berdasarkan laporan dari Kompas.com pada 2 Agustus 2023, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah menyebutkan bahwa rumput laut memiliki kandungan karbon yang bisa dimanfaatkan sebagai energi alternatif. Beberapa bentuk energi yang dapat dihasilkan dari rumput laut termasuk gas hidrogen, biogas, bioetanol, dan char, yang dapat ditingkatkan kualitasnya untuk menjadi bahan bakar padat. Menurut Novi Syaftika, Peneliti Teknologi Industri Proses dan Manufaktur BRIN, kandungan karbon dalam makroalga (rumput laut) memiliki potensi besar sebagai sumber energi terbarukan.
Penelitian dan Pengembangan Bioetanol dari Rumput Laut
Salah satu jenis rumput laut yang berpotensi tinggi untuk bioenergi adalah Euchema cottonii. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan oleh Tirto.id pada 17 Januari 2024, jenis ini dapat diolah menjadi bioetanol. Jurnal berjudul "Potensi Pemanfaatan Rumput Laut Sebagai Sumber Energi Baru Terbarukan Untuk Mendukung Ketahanan Energi Daerah (Studi Di Provinsi Bali)" tahun 2018 mengungkapkan bahwa 100 gram rumput laut jenis Euchema cottonii memiliki energi sebesar 72.6208 kalori atau setara dengan 0.2882 BTU (British Thermal Unit).
Penelitian lain oleh Saniha Adini pada tahun 2015 menunjukkan bahwa 1 kilogram rumput laut dapat menghasilkan sekitar 215.6 gram bioetanol. Jika dihitung, ini setara dengan 169.25 mililiter bioetanol per kilogram. Penelitian di Bali menunjukkan bahwa sisa limbah rumput laut jenis Euchema cottonii dapat menghasilkan energi sebesar 15,305,035.667 kilokalori, yang setara dengan 64,079.123 MJoule atau 60,730,381.53 BTU.
Proses pembuatan bioetanol dari rumput laut melibatkan beberapa tahap. Menurut jurnal yang ditulis oleh Nofriya pada tahun 2015, tahap pertama adalah persiapan bahan baku dengan hidrolisa pati menjadi glukosa. Proses ini menghasilkan tiga enzim utama dalam selulase kompleks: endoglukanase, eksoglukanase, dan selobiase. Selanjutnya, glukosa difermentasi menjadi etanol dan CO₂, kemudian diproses lebih lanjut melalui distilasi untuk pemurnian.
Dari setiap hektar ladang rumput laut, diperkirakan dapat menghasilkan antara 7,200 hingga 9,600 liter bioetanol per tahun. Dalam skala besar, ini dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap kebutuhan energi terbarukan di Indonesia.
Pemanfaatan rumput laut sebagai sumber bioenergi merupakan langkah inovatif yang dapat mendukung pengembangan energi terbarukan di Indonesia, khususnya di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Selain memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal, pengembangan ini juga dapat membantu mengatasi tantangan lingkungan dan kebutuhan energi di masa depan. Usulan ini sejalan dengan penelitian ilmiah yang menunjukkan bahwa rumput laut memiliki potensi besar sebagai sumber energi alternatif, terutama dalam bentuk bioetanol yang ramah lingkungan.
Posting Komentar